| |
Manfaat kolostrum yang telah terbukti secara ilmiah antara lain: |
|
 |
- Mengurangi radang:
kolostrum telah terbukti mengurangi – bahkan menyembuhkan – peradangan kronis, termasuk penyakit Chrohn.
- Mengurangi alergi:
alergi disebabkan oleh produksi Immunoglubolin E (lgE) sebagai akibat adanya ‘faktor non-alami’ yang tak dapat dicerna oleh tubuh. Dengan mengurangi produksi lgE, kolostrum dengan sendirinya mengurangi efek alergi tersebut.
|
|
- Menstabilkan – bahkan menyembuhkan penyakit Alzheimer:
dari 15 pasien yang mendapatkan terapi colostrum, 8 menunjukkan efek penyembuhan dan 7 tidak menjadi lebih buruk. Sedangkan pasien yang mendapatkan terapi plasebo ternyata tidak mengalami perbaikan apapun.
- Memerangi radikal bebas (sebagai antioxidant) dan menghambat penuaan dini:
kolostrum mengandung anti-oxidant glutathione untuk memerangi kerusakan akibat radikal bebas terhadap DNA, struktur protein, dan lipid yang emenyebabkan kerusakan sel, timbulnya keriput, dan penuaan dini.
|
|
- Mengurangi penderitaan berbagai macam arthritis – dari osteoarthritis hingga autoimmune rheumatoid:
penyebab umum dari berbagai jenis arthritis adalah peradangan dan kerusakan struktur sendi yang menyebabkan rasa sakit luar-biasa. Karena kolostrum mempunyai karakter menyembuhkan peradangan, dengan sendirinya juga bermanfaat bagi para penderita arthritis.
- Menyembuhkan asma:
lactoferin dalam kolostrum telah terbukti mengurangi enzim ‘tryptase’ yang merupakan penyebab penyakit asma.
|
 |
|
- Meningkatkan performa atlet:
kolostrum adalah suplemen yang sangat popular di kalangan atlet professional karena kemampuannya dalam meningkatkan massa otot tanpa efek samping yang terdapat dalam steroid.
Bahkan kolostrum telah terbukti dapat mempercepat proses penyembuhan saat cedera – termasuk kerusakan otot dan sendi – dan meningkatkan sistem imun yang menurun akibat aktivitas olah-raga yang ‘ekstrim’.
Igf-1 dalam kolostrum – walaupun meningkatkan performa atlet professional – merupakan bentuk alami sehingga tidak dilarang oleh International Olympic Committee (IOC).
- Melawan penyakit ‘auto–immune’:
penyakit auto-immune adalah akibat sistem imun kita sendiri yang bereaksi secara berlebihan terhadap virus, bakteri, dan jamur yang masuk ke dalam tubuh kita ke tingkat yang tidak terkendali. Salah satu komponen unik dalam kolostrum yang disebut “PRP (Proline-Rich Polypeptides)” mampu menstabilkan reaksi yang berlebihan tersebut ke tingkat yang normal.
|
- Anti kanker:
studi ilmiah membuktikan bahwa lactoferin – protein yang terdapat dalam kolostrum – dapat memperlambat aktivitas, bahkan memperkecil sel kanker. Sementara itu conjugated linoleic acid (CLA) dan komponen lemak lain dalam kolostrum juga terbukti mempunyai karakter ‘anti-kanker’.
- Proses detoksifikasi:
masyarakat umumnya menganggap bahwa proses detoksifikasi adalah dengan mengkonsumsi berbagai jenis herbal yang menyebabkan tubuh mengeluarkan cairan dan toxin dari dalam tubuh. Dari sisi pandang terapi kolostrum, proses tersebut justru menimbulkan ‘stress’ yang berlebihan pada sistem pencernaan tubuh dan dapat mengakibatkan gangguan kesehatan.
Kolostrum menggunakan metode yang berbeda dalam proses detoksifikasi, yaitu dengan menghancurkan patogen yang merugikan, antara lain ‘helicobacter pylori’ (penyebab utama gangguan pencernaan), ‘candida albicans’ (sejenis jamur dalam usus yang merusak bakteri baik), dll. disamping meningkatkan produksi bakteri yang menguntungkan.
|
 |
|
| |
Kolostrum juga dapat menyembuhkan kerusakan usus yang disebabkan oleh patogen atau toxin yang terakumulasi sebelum menyerang pankreas, liver, dan organ tubuh lain. Dengan kata lain kolostrum dapat membantu mencegah berbagai penyakit: hepatitis, cirrhosis, kerusakan hati, fibrosis hati,radang hati, dll.
Kandungan lysozyme dan lactoferrin dalam kolostrum dapat menghalangi pertumbuhan ‘bakteri jahat’ dalam usus besar sehingga meningkatkan kesehatan sistem pencernaan kita secara menyeluruh.
Kini makin banyak ahli kesehatan meyakini bahwa pemeliharaan kesehatan yang baik dimulai dengan peningkatan sistem pencernaan dan sistem pengeluaran kotoran dari dalam tubuh. |
|
- Mencegah diabetes:
IGF-1 sebagai faktor pertumbuhan yang terkandung dalam kolostrum berfungsi mirip insulin dalam menstabilkan kadar glukosa darah dapat mencegah diabetes. IGF-1 yang terdapat dalam bovine kolostrum sepuluh kali lebih tinggi daripada kolostrum manusia dan juga bermanfaat untuk:
* meningkatkan proses penyembuhan,
* pertumbuhan otot (berarti ikut meningkatkan pembakaran lemak)
* merangsang produksi sel imunisasi,
- Meningkatkan kesehatan jantung:
Kandungan insulin, IGF-1, protein, dan ‘peptides’ dalam kolostrum membantu mengurangi tekanan darah tinggi dan berfungsi secara sinergis apabila dipadukan dengan pola hidup sehat mengkonsumsi sedikit lemak serta banyak sayur dan buah.
- Mempercepat penyembuhan pada luka dan meningkatkan kesehatan kulit:
Kolostrum mengandung semua nutrisi untuk menyehatkan kulit secara internal, mengurangi radang kulit dan mengurangi kerut pada wajah karena juga berfungsi sebagai anti-oxidant.
Kandungan faktor pertumbuhan (epidermal, fibroblast, dan IGF-1) membantu meningkatkan kesehatan dan ‘kecantikan’ kulit dengan meregenerasi pertumbuhan sel kulit baru untuk mengganti sel lama dan luka. Dengan kata lain, kekurangan faktor pertumbuhan di atas akan memperlambat penyembuhan pada luka.
Kolostrum membantu menyembuhkan ‘leaky gut syndrom’ di mana kulit mengalami alergi saat antibodi tubuh dalam proses detoksifikasi bakteri patogen dan toxin dalam tubuh.
Kandungan lipid ceramide dalam kolostrum berfungsi untuk hidrasi kulit sehingga mengurangi resiko dermatitis dan kulit kering.
|
| -----------(o)----------- |
Kenapa “FirstFood™”? |
FirstFood™: suplemen kolostrum dari RBC Life Sciences terbuat dari bovine kolostrum yang diambil dari sapi-sapi sehat dalam lingkup peternakan yang terkendali. Mutu kolostrum ini diawasi dengan ketat dan dilakukan uji laboratorium untuk menjamin FirstFood™ bebas ‘polusi’, aman dikonsumsi tanpa efek samping atau interaksi obat. |
| -----------(o)----------- |
| 3 Teknologi untuk memastikan kolostrum First Food adalah ‘first class’: |
|
Teknologi Bahan |
 |
Colostrum dalam First Food™ diambil hanya dari susu sapi sebelum lewat 6 jam setelah melahirkan (produk lain umumnya menggunakan bahan hingga 72 jam setelah melahirkan karena faktor harga)
Bahan tersebut dibekukan berdasarkan lot berlabel untuk memastikan mutu saat diproses
Sumber bahan adalah sapi yang diternakkan secara ilmiah dan terjaga sesuai dengan aturan penyakit sapi gila (21 CFR 289.2000 Mad Cow Disease Protection). |
|
|
Teknologi Proses |
Menjaga semua aktivitas biologis colostrum yang positif
Menggunakan proses ‘Freeze Dried™’ agar tidak merusak komponen yang berguna
Menggunakan proses homogenisasi agar kualitas merata di seluruh produk jadi |
|
|
Teknologi NanoClusters™: |
Meningkatkan penyerapan nutrisi hingga 500%
Memelihara kandungan terbaik dan sekaligus meniadakan kandungan yang merugikan tanpa merusak karakter positif produk jadi
Dengan menggunakan 3 teknologi di atas, First Food™ berhasil mengoptimalkan kandungan dan komponen lainnya: |
- Lisozim: melawan bakteri jahatdi saluran pencernaan
- Laktoferin : meningkatkan penyerapan zat besi ke dalam sel darah merah untuk melawan partumbuhan bakteri ‘jahat’
- Transforming Growth Factors (TGF) dan Ephithelial Growth Factor untuk meningkatkan pertumbuhan sel-sel, perbaikan jaringan, dan proses penyembuhan luka.
- Proline-Rich Polypeptida (PRP): mengatur sistem imun tubuh dengan cara merangsang sistem imun yang tidak aktif dan menekan sistem imun yang hiperaktif.
- Lekosit: merangsang produksi interferon untuk meng-hambat aktivitas virus.
- Hidrogen peroksida: menghasilkan enzym yang dapat menghancurkan bakeri merugikan.
- Sitokin: merangsang dan mengatur respons imunisasi, komunikasi antar sel, dan meningkatkan imunitas terhadap sel-sel yang termutasi.
- Orotic acid: mendukung keutuhan sel darah merah
|
| -----------(o)----------- |
| First Food™ (POM SI 034304161) saran penggunaan : 1-3 kapsul/ hari; kapsul First Food™ dapat dibuka dan isinya dicampur dengan makanan bayi. |
| Jangan biarkan kesehatan Anda menjadi ‘santapan empuk’ penyakit. Pertahankan kesehatan Anda dengan First Food™: suplemen ‘first class’ untuk seluruh keluarga. |
| -----------(o)----------- |
| Referensi: |
Salmon W, Daughaday W (1957). "A hormonally controlled serum factor which stimulates sulfate incorporation by cartilage in vitro". J Lab Clin Med 49 (6): 825–36. PMID13429201.
Ahmed, Sanjida; Yamamoto Kazuhiro, Sato Yuichiro, Ogawa Takashi, Herrmann Andreas, Higashi Shouichi, Miyazaki Kaoru (Oct. 2003). "Proteolytic processing of IGFBP-related protein-1 (TAF/angiomodulin/mac25) modulates its biological activity". Biochem. Biophys. Res. Commun. (United States) 310 (2): 612–8. ISSN0006-291X. PMID14521955.
Oh, Y; Nagalla S R, Yamanaka Y, Kim H S, Wilson E, Rosenfeld R G (Nov. 1996). "Synthesis and characterization of insulin-like growth factor-binding protein (IGFBP)-7. Recombinant human mac25 protein specifically binds IGF-I and -II". J. Biol. Chem. (UNITED STATES) 271 (48): 30322–5. ISSN0021-9258. PMID8939990.
Liu, Bingrong; Weinzimer Stuart A, Gibson Tara Beers, Mascarenhas Desmond, Cohen Pinchas. "Type Ialpha collagen is an IGFBP-3 binding protein". Growth Horm. IGF Res. (Scotland) 13 (2-3): 89–97. ISSN1096-6374. PMID12735930. |
 |
Ueki, I; Ooi G T, Tremblay M L, Hurst K R, Bach L A, Boisclair Y R (Jun. 2000). "Inactivation of the acid labile subunit gene in mice results in mild retardation of postnatal growth despite profound disruptions in the circulating insulin-like growth factor system". Proc. Natl. Acad. Sci. U.S.A. (UNITED STATES) 97 (12): 6868–73. doi:10.1073/pnas.120172697. ISSN0027-8424. PMID10823924.
Buckway, C K; Wilson E M, Ahlsén M, Bang P, Oh Y, Rosenfeld R G (Oct. 2001). "Mutation of three critical amino acids of the N-terminal domain of IGF-binding protein-3 essential for high affinity IGF binding". J. Clin. Endocrinol. Metab. (United States) 86 (10): 4943–50. ISSN0021-972X. PMID11600567.
Cohen, P; Graves H C, Peehl D M, Kamarei M, Giudice L C, Rosenfeld R G (Oct. 1992). "Prostate-specific antigen (PSA) is an insulin-like growth factor binding protein-3 protease found in seminal plasma". J. Clin. Endocrinol. Metab. (UNITED STATES) 75 (4): 1046–53. ISSN0021-972X. PMID1383255.
Twigg, S M; Baxter R C (Mar. 1998). "Insulin-like growth factor (IGF)-binding protein 5 forms an alternative ternary complex with IGFs and the acid-labile subunit". J. Biol. Chem. (UNITED STATES) 273 (11): 6074–9. ISSN0021-9258. PMID9497324.
Firth, S M; Ganeshprasad U, Baxter R C (Jan. 1998). "Structural determinants of ligand and cell surface binding of insulin-like growth factor-binding protein-3". J. Biol. Chem. (UNITED STATES) 273 (5): 2631–8. ISSN0021-9258. PMID9446566. |
|
|